Friday, July 5, 2019

Luruskan Niat Ketika Jadi Pengurus NU

Untuk menjadi pengurus NU, tidaklah sulit. Namun yang perlu dipahami bahwa setiap jengkal kepengurusan NU mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan NU. Tanggung jawab tersebut harus dijalankan sedemikian rupa demi kepentingan NU.
Demikian diungkapkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar saat memberikan tausiyah dalam Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kencong Periode 2019-2024 di aula gedung NU Kencong, Jember, Jawa Timur, Rabu (3/7).
Menurutnya, dalam berkecimpung di NU, niat harus diluruskan. Yaitu niat untuk bekerja dan mengabdi demi kepentingan NU. Jangan sampai terjadi, niat berjuang untuk dan atas nama NU, tapi ujung-jungnya demi memenuhi kepentingan pribadi.
“Itu tidak boleh. Seakan-akan berjuang untuk NU, untuk agama, dengan mengusung lebel Islam,  tapi sesungguhnya dia mencari keuntungan dunia. Itu namanya memperalat agama untuk tujuan duniawi,” jelasnya.
Kiai Mustamar meminta pengurus NU uantuk menjaga amanah yang telah diberikan. Pantang menyelipkan niat menjadi pengurus NU untuk tujan lain di luar kepentingan NU. NU akhirnya cuma menjadi batu loncatan untuk mencapai nafsu duniawi. Sebab NU milik ulama dan didirikan oleh para ulama. Di situ ada nama KH Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lain yang telah bersusah payah mendirikan NU.
“Jadi pengurus NU siap dibaiat, itu artinya sudah siap berjuang untuk membesarkan NU, bukan memperalat NU,” tuturya.
Di bagian lain, ia juga meminta agar pengurus NU untuk segera mendata masjid dan membuatkan sertifikat untuk masjid yang sudah ‘dikuasai’ NU. Hal ini penting untuk memastikan masjid-masjid tersebut  tidak beralih ‘kepemilikan’. Sebab sudah banyak terjadi masjid yang karena kelalaian takmirnya untuk disertifikat, akhirnya menjadi ‘milik’ pihak lain, yang notabene bertentangan dengan amaliah NU, bahkan mencaci maki NU.
“Harus masjid-masjid kita disertifikat. Kalau perlu biayanaya patungan di antara pengurus. Karena tidak disertifikat, sebuah masjid di Malang, hampir jadi gereja,” terangnya. Sumber

No comments:

Post a Comment