Friday, August 2, 2019

Bolehkah kaitkan bencana dengan teguran Tuhan?

TRENDING NOW:Khutbah Jumat: Ibadah Haji, antara Kebutuhan dan KeinginanLebih Baik Kurban Sapi Patungan atau Kambing Sendirian?

ILMU TAUHID

Bolehkah Menghubungkan Gempa Bumi dengan Teguran Tuhan?

Rabu 3 Oktober 2018 15:45 WIB

Share:

Ilustrasi (mainichi.jp)

Maraknya gempa akhir-akhir ini membuat respons masyarakat terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang mengatakan bahwa gempa ini adalah fenomena alam biasa tanpa perlu disangkut pautkan dengan ajaran agama atau teguran dari Tuhan. Kedua, kelompok yang mengatakan bahwa gempa adalah tindakan Tuhan untuk menghukum manusia yang lalai dari ajarannya. Tampaknya sulit bagi kedua kelompok ini bertemu dalam satu titik sepakat sebab perbedaan paradigma yang saling bertolak belakang. Namun, sebenarnya hal ini dapat digabungkan menjadi suatu pemahaman yang komprehensif

Dari segi ilmiah, Indonesia adalah wilayah rawan gempa sebab beberapa faktor; Keberadaannya di wilayah Cincin Api Pasifik membuat negara ini menjadi ladang gempa bumi. Bukan hanya itu, Sabuk Alpide yang melewati Indonesia juga menyumbang potensi gempa. Tak ketinggalan, posisi Indonesia juga berada tepat di tengah tumbukan lempeng tiga benua, yaitu Pasifik di arah timur, Indo-Australia di arah selatan dan Eurasia di utara. Satu faktor saja sudah cukup untuk menjadikan suatu kawasan sebagai wilayah rawan gempa, dan kebetulan Indonesia memiliki tiga faktor sekaligus. Bila melihat fakta ilmiah ini, terlihat bahwa gempa bumi di Indonesia adalah hal wajar dan sama sekali tak berhubungan dengan kejadian apa pun yang dilakukan manusia. 

Namun kesimpulannya akan berbeda bila kita melihat dari sudut pandang teologis. Dari sudut pandang ini, peristiwa yang dialami manusia seluruhnya adalah bagian dari kehendak Allah yang sudah tercatat seluruhnya di Lauh Mahfudz. Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍۢ فِي ٱلْأَرْضِ وَلَا فِيْ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَٰبٍۢ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌۭ

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22)

Dalam hal ini, gempa bumi tak mempunyai status khusus yang berbeda dengan seluruh kejadian lainnya. Tak ada bedanya antara gempa bumi dan tersandung, jatuh, pegal-pegal, tertusuk duri dan seterusnya. Semuanya terjadi atas izin Allah (qadar) dan sudah tercatat proses kejadiannya sejak sebelum alam semesta tercipta (qadla’). Ini adalah konteks teologis murni yang letaknya ada dalam hati sebagai bagian dari keimanan seorang Muslim.

Pertanyaan selanjutnya, apakah ada keterkaitan antara gempa bumi dengan ulah manusia (maksiat)? Dari sisi teologis, jawabannya bisa saja demikian sebab banyak sekali ayat atau hadits yang memberitakan bahwa kejadian-kejadian yang menimpa manusia bisa diakibatkan sebab ulah buruk manusia itu sendiri. Allah mengingatkan hambanya dengan banyak cara, salah satunya adalah gempa bumi ini. Lihat misalnya kisah kaum Nabi Luth yang membangkanghinggamendapat bencana alam hebat sebagaimana digambarkan dalam ayat berikut:

فَلَمَّا جَآءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَٰلِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةًۭ مِّن سِجِّيلٍۢمَّنضُودٍۢ

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud: 82)

Di beberapa ayat lainnya, Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan kaum-kaum terdahulu yang berakhir tragis sebab tidak mematuhi ajaran Tuhan. Lihat misalnya:

 قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِكُمْ سُنَنٌۭ فَسِيرُوا۟ فِي ٱلْأَرْضِ فَٱنظُرُوا۟ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلْمُكَذِّبِينَ

"Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. Ali Imran: 137)

Namun, apakah setiap bencana gempa bumi atau bencana alam lainnya bisa ditafsirkan sebagai teguran Tuhan? Jawabannya dengan tegas adalah tidak!, sama sekali tidak!. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, dari aspek teologis tak ada kekhususan dalam hal bencana alam dari kejadian apapun. Bila bicara soal teguran Tuhan, maka teks-teks agama Islam menegaskan bahwa semua hal bisa menjadi bentuk teguran Tuhan. Sakit, rezeki yang sulit, gagal panen, kematian, dan segala ketidaknyamanan bisa menjadi bentuk teguran Tuhan agar seorang hamba kembali mengingat-Nya. Rasa berat dan enggan untuk beribadah juga bentuk teguran yang paling nyata. 

Selain itu, ada juga teguran yang tampak sebagai kenikmatan, misalnya: Kekayaan, kesuksesan dan umur panjang yang disertai meningkatnya jumlah maksiat. Ini semua adalah teguran paling parah yang diberikan Allah kepada hambanya yang sudah terkunci mata hatinya. Dalam istilah Islam, teguran semacam ini disebut sebagai istidrâj dan ini banyak disinggung dalam Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan kesuksesan orang-orang kafir dan orang-orang dhalim di dunia dan bahwa hukuman bagi mereka ditangguhkan hingga mereka mati.

Jadi, jangan gegabah memvonis bahwa korban gempa bumi adalah orang-orang yang mendapat teguran (azab) dari Allah. Vonis semacam ini dilarang sebab hanya Allah yang tahu rahasia di balik setiap kejadian. Dulu kita bisa tahu bahwa suatu bencana merupakan teguran Tuhan terhadap suatu kaum sebab ada seorang Nabi yang menjelaskannya. Namun di era ketiadaan Nabi seperti sekarang, kita hanya bisa berprasangka (dhann) dan Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa kebanyakan prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12). 

Justru dalam hadits dijelaskan bahwa orang yang tertimba reruntuhan dan tenggelam adalah orang yang mendapat pahala syahid. Nabi Muhammad ﷺBersabda:

الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

“Para syahid itu ada lima, yaitu orang yang mati karena wabah pes (tha’un), orang yang mati karena penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Sikap kita terhadap sebuah musibah harus dipilah menjadi dua; sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap orang lain. Ketika diri kita sendiri mendapat musibah, apa pun itu mulai yang ringan hingga berat, maka seyogianya kita introspeksi jangan-jangan itu adalah teguran Tuhan kepada kita sehingga kita bisa berubah menjadi lebih baik dan bersemangat dalam beribadah. Namun ketika orang lain yang mendapatkan musibah, apa pun itu, maka kita harus melihatnya sebagai fenomena alami (sunnatullah) yang terjadi sebab faktor-faktor natural tanpa membumbuinya dengan aneka prasangka yang menyakitkan bagi korban atau keluarganya, apalagi bila yang terkena musibah bukanlah pelaku maksiat, seperti kebanyakan kasus gempa di Indonesia selama ini. 

Dalam hal gempa di Indonesia, kita harus melihat faktor alami penyebab gempa itu apa dan bagaimana cara meminialisasi risiko di masa depan dengan cara-cara yang ilmiah seperti membuat bangunan tahan gempa, penataan pemukiman dan lain sebagainya. Kita juga harus membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah dengan cara apa pun yang kita bisa, minimal mendoakan kebaikan. Jangan sampai ada yang gegabah menghubungkan suatu musibah sebagai azab, sebab bisa saja para korban itu mendapat pahala syahid dan justru penonton yang tak tertimpa musibah itulah yang terkena azab Allah berupa istidrâj yang harus dibayar mahal kelak di akhirat. Wallahua'lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti di Aswaja Center Jember.

Readmore → Bolehkah kaitkan bencana dengan teguran Tuhan?

Thursday, July 11, 2019

Amalan Mujarab Lancar Rezeki

Pada prinsipnya, zikir sangat dianjurkan pada saat apa saja dan dengan lafazh apa saja. Tidak peduli panas, hujan, mendung, atau terik, zikir tetap disarankan. Tidak ada ketentuan bahwa zikir mesti diperbanyak saat saluran rezeki tersumbat atau kredit macet. Demikian juga di waktu senang. Singkatnya lidah tidak boleh kering dari zikir di mana saja dan kapan saja.

Tetapi memang ada kalanya Rasulullah SAW menganjurkan para sahabat untuk melazimkan suatu amal. Sementara Rasulullah SAW sendiri menyebutkan buah dari amal tersebut atau tidak menyebutkannya sama sekali.

Berikut ini merupakan amalan yang dianjurkan Rasul SAW kepada sejumlah sahabatnya dengan faidah melonggarkan saluran-saluran rezeki. Demikian disebutkan Abu Bakar bin Sayid M Syatho Dimyathi dalam karyanya Hasyiyah I‘anatut Thalibin ala Fathil Mu‘in.

وردت عن النبي صلى الله عليه وسلم في أحاديث صحيحة كثيرة، أمر بها بعض أصحابه لتوسعة الرزق، وقال بعض العارفين: وهي مجربة لبسط الرزق الظاهر والباطن، وهي هذه: لا إله إلا الله الملك الحق المبين، كل يوم مئة مرة. سبحان الله وبحمده، سبحان الله العظيم، أستغفر الله، كل يوم مئة مرة. واستحسن كثير من الأشياخ أن تكون بين سنة الصبح والفريضة، فإن فاتت في ذلك فبعد صلاة الصبح وقبل طلوع الشمس، وإن فاتت في ذلك فعند الزوال. فلا ينبغي للعبد أن يخلي يومه عنها. 

Tersebut dalam banyak hadits sahih sebuah riwayat di mana Nabi Muhammad SAW memerintahkan sejumlah sahabatnya untuk mengamalkan bacaan ini demi memperlapang rezeki. Sebagian ‘arifin mengatakan, amalan ini teruji dalam melapangkan rezeki lahir maupun batin. Bacaan yang dimaksud ialah “La ilaha illallah. Almalikul haqqul mubin” setiap hari 100 kali. “Subhanallahi wa bihamdih, subhanallahil adzim, astaghfirullahal adzim” setiap hari 100 kali. Banyak guru besar menganggap baik melazimkan bacaan ini saat di antara sembahyang sunah Subuh dan sembahyang Subuh. Kalau kesempatan itu luput, maka bacalah setelah Subuh hingga sebelum fajar menyingsing. Bila di waktu itu luput juga, maka bacalah setelah matahari gelincir (penanda Zhuhur). Singkatnya, kalau bisa jangan sampai setiap orang mengarungi hari-harinya tanpa bacaan ini.

Rezeki yang dimaksud di atas mencakup rezeki lahir maupun batin. Artinya, tidak ada salahnya kalau bacaan ini diamalkan oleh para murid yang cenderung bebal menerima pelajaran atau mereka yang sulit mengubah kebiasaan buruk menjadi baik. Yang jelas, amalan ini menambah pahala yang bersangkutan.

La ilaha illallah. Almalikul haqqul mubin. Muhammadur Rasulullah Ash-shadiqul Wa‘dil Amin” merupakan kalimat yang tertera di pintu Ka‘bah. Siapa membacanya, akan mendapat pahala yang besar. Demikian keterangan Mufti Jakarta Habib Utsman bin Yahya dalam karyanya "Kitab Sifat Dua Puluh" dengan bahasa Arab Melayu. Wallahu A ‘lam. Sumber
Readmore → Amalan Mujarab Lancar Rezeki

Sunday, July 7, 2019

Pesan Pak Sutopo Untuk Santri Nahdliyin Sebelum Meninggal

Jauh hari sebelum menghembuskan nafas terakhir, Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menaruh harapan besar kepada para santri dan Nahdlatul Ulama. Harapan itu ia ungkapkan melalui akun twitternya @Sutopo_PN.

"Santri berperan penting dalam penanggulangan bencana. Ciptakan santri yang tanggung dan peduli bencana," kata Sutopo, yang saat itu turut meramaikan Hari Santri 2016 di media sosial twitter.

"Selamat memperingati Hari Santri Nasional. Semoga tercipta santri dan ponpes yang tangguh menghadapi bencana," lanjut Sutopo melengkapi twitt sebelumnya sembari menyebut Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla.

Di tahun berikutnya, tepatnya 26 April 2017, pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 ini juga mengungkapkan apresiasinya kepada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama, yang turut serta menyukseskan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN).

"LPBI NU siap menyukseskan HKBN  26/4/2017. Nahdliyyin NU harus menjadi pelopor masyarakat yang tanggung".

Ketua LPBI Pengurus Besar Nahdlatul Ulama M Ali Yusuf menyatakan rasa dukanya yang mendalam atas wafatnya sosok yang berjasa dalam mengabarkan segala hal terkait kebencanaan.

"Kita semua berduka cita dan merasa kehilangan atas meninggalnya Pak Topo. Beliaulah orang yang memberi kabar segala sesuatu terkait kebencanaan, tidak hanya setiap ada kejadian bencana, detail mulai dari kronologi hingga dampaknya, dilengkapi pula upaya penanganannya termasuk jenis bantuan yang dibutuhkan," kata Ali, Ahad (7/7) pagi.

Lebih dari itu, lanjut Ali, almarhum Sutopo mengabarkan peringatan kepada masyarakat beberapa waktu sebelum kejadian bencana untuk meningkatkan kesiapsiagaan mereka.

Menurut Ali Yusuf, apa yang dilakukan Sutopo selama ini adalah amal shaleh yang orang lain belum tentu dapat melakukannya. "Apa yang dilakukan oleh Pak Topo selama ini sangatlah mulia, karena selain memberikan informasi dan bahkan pengetahuan," ujarnya.

Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia dini hari ini sekitar pukul 02.00 di Guangzhou, China. Kabar meninggalnya Sutopo disampaikan Direktorat Pengurangan Risiko Bencana (PRB) BNPB melalui Twitter resminya, Ahad (7/7). 

"Telah meninggal dunia Bapak @Sutopo_PN , Minggu, 07 July 2019, sekitar pukul 02.00 waktu Guangzhou/pukul 01.00 WIB. Mohon doanya untuk beliau," tulis Direktorat PRB.

Sutopo meninggal dalam perjuangannya melawan kanker paru-paru. Ia didiagnosis di sekitar awal Desember 2017 dan di tengah perjuangannya masih sempat bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia.

Pria yang dianugrahi Asian Of The Year 2018 itu sebelumnya bertolak ke Guangzhou untuk pengobatan. Sutopo mengatakan bahwa kankernya sudah menyebar. Untuk itu ia meminta doa dan restu dari para netizen menjalani satu bulan pengobatan di Guangzhou.

"Hari ini saya ke Guangzho untuk berobat dari kanker paru yang telah menyebar di banyak tulang dan organ tubuh lali. Kondisinya sangat menyakitkan sekali," kata Sutopo mengunggah video pada Sabtu (15/6) yang menunjukkan dirinya sedang berada di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta.
 
Readmore → Pesan Pak Sutopo Untuk Santri Nahdliyin Sebelum Meninggal

Friday, July 5, 2019

Luruskan Niat Ketika Jadi Pengurus NU

Untuk menjadi pengurus NU, tidaklah sulit. Namun yang perlu dipahami bahwa setiap jengkal kepengurusan NU mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan NU. Tanggung jawab tersebut harus dijalankan sedemikian rupa demi kepentingan NU.
Demikian diungkapkan oleh Ketua PWNU Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar saat memberikan tausiyah dalam Pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kencong Periode 2019-2024 di aula gedung NU Kencong, Jember, Jawa Timur, Rabu (3/7).
Menurutnya, dalam berkecimpung di NU, niat harus diluruskan. Yaitu niat untuk bekerja dan mengabdi demi kepentingan NU. Jangan sampai terjadi, niat berjuang untuk dan atas nama NU, tapi ujung-jungnya demi memenuhi kepentingan pribadi.
“Itu tidak boleh. Seakan-akan berjuang untuk NU, untuk agama, dengan mengusung lebel Islam,  tapi sesungguhnya dia mencari keuntungan dunia. Itu namanya memperalat agama untuk tujuan duniawi,” jelasnya.
Kiai Mustamar meminta pengurus NU uantuk menjaga amanah yang telah diberikan. Pantang menyelipkan niat menjadi pengurus NU untuk tujan lain di luar kepentingan NU. NU akhirnya cuma menjadi batu loncatan untuk mencapai nafsu duniawi. Sebab NU milik ulama dan didirikan oleh para ulama. Di situ ada nama KH Hasyim Asy’ari dan kiai-kiai lain yang telah bersusah payah mendirikan NU.
“Jadi pengurus NU siap dibaiat, itu artinya sudah siap berjuang untuk membesarkan NU, bukan memperalat NU,” tuturya.
Di bagian lain, ia juga meminta agar pengurus NU untuk segera mendata masjid dan membuatkan sertifikat untuk masjid yang sudah ‘dikuasai’ NU. Hal ini penting untuk memastikan masjid-masjid tersebut  tidak beralih ‘kepemilikan’. Sebab sudah banyak terjadi masjid yang karena kelalaian takmirnya untuk disertifikat, akhirnya menjadi ‘milik’ pihak lain, yang notabene bertentangan dengan amaliah NU, bahkan mencaci maki NU.
“Harus masjid-masjid kita disertifikat. Kalau perlu biayanaya patungan di antara pengurus. Karena tidak disertifikat, sebuah masjid di Malang, hampir jadi gereja,” terangnya. Sumber

Readmore → Luruskan Niat Ketika Jadi Pengurus NU

Monday, July 1, 2019

Menjaga Tradisi Belajar Keislaman dengan Tertib

Imam al-Ghazali dan Ibn Rusyd itu beda generasi, tetapi kritikan Ghazali terhadap filsafat dibantah oleh Ibn Rusyd. Buku dibantah buku. Namun yang menarik, karya monumental Ghazali dalam bidang Ushul Fiqih, yaitu kitab al-Mustashfa, ternyata dibuat ringkasannya oleh Ibn Rusyd.

Ini artinya Ibn Rusyd bukanlah ‘hater’ dari al-Ghazali. Tidak mencaci atau membenci.  Tetap kritis, tapi juga apresiatif. Semalam saya unduh kitab ad-Dharuri fi Ushul al-Fiqh – karya beliau yang meringkas al-Mustashfa.

Menarik bukan khazanah keislaman klasik ini?

Contohnya, al-Ghazali menulis:

‎‏أما التمهيد فهو أن الحكم عندنا عبارة عن خطاب الشرع إذا تعلق بأفعال المكلفين،

‎‏Sedangkan Ibn Rusyd meringkas plus memodifikasinya:

‎‏أما حد الحكم عند أهل السنة فهو عبارة عن خطاب الشرع إذا تعلق بأفعال المكلفين

Saat al-Ghazali menyodorkan definisi hukum beliau menulis kata ‘indana (menurut kami). Kata ini diubah dengan diperjelas oleh Ibn Rusyd, yaitu ‘inda Ahlis sunnah (menurut Ahlussunnah). Modifikasi ini terlihat sepele tapi sesungguhnya Ibn Rusyd telah memperjelas kutipan ini.

Pertama, dengan mengubah kalimat ‘indana Ibn Rusyd meluaskan audiens yang dituju oleh kitab al-Mustashfa ini. Kedua, pembahasan berikutnya, al-Ghazali mengupas perbedaannya dengan Mu’tazilah ttg al-husn wal qubh (baik & buruk). Jadi wajar Ibn Rusyd menegaskan posisi Ghazali yang Ahlussunnah.

Lagipula sebenarnya masalah khitab syar’i ini juga melibatkan perdebatan ilmu kalam antara Ahlussunnah dan Mu’tazilah. Kalau kita baca salah satu kitab babon ushul fiqih yang berjudul Nihayah as-Sul karya Imam Isnawi, ada diskusi menarik soal definisi hukum ini.

Apakah khitabullah itu qadim (lama) seperti klaim Ahlussunnah, atau hadits (baru) seperti klaim Mu’tazilah. Ahlussunnah bilang khitabullah itu kalamullah. Sifat Allah itu qadim. Mu’tazilah serang balik: kalau khitabullah qadim, apakah hukum jadi hadits karena berkenaan dengan perbuatan mukallaf?

Diskusinya akan panjang soal ini, sementara kitab al-Mustashfa tidak menyinggung sedetil itu, namun Ibn Rusyd paham konteks diskusinya, maka beliau memperjelas kalimat ‘indana dari Imam al-Ghazali menjadi ‘inda ahlis sunnah.

Selain meringkas, khazanah keilmuan klasik Islam juga dipenuhi dengan tradisi memberi syarh (penjelasan) terhadap matan (teks asli). Misalnya Nihayah as-Sul yang saya kutip di atas, itu merupakan Syarh(penjelasan) Al-Isnawi terhadap kitab al-Baidhawi yang meringkas al-Mahsul karya ar-Razi.

Selain itu ada pula eksplorasi lebih lanjut dari kitab syarh. Catatannya makin panjang. Namanya hasyiyah. Dalam bidang ushul al-fiqh, contohnya kitab al-Waraqat karya Imam al-Haramain, diberi syarh oleh al-Mahalli. Lantas Syekh Ahmad ad-Dimyathi menulis hasyiyah-nya.

Tradisi inilah yang dijaga dalam khazanah keilmuan Islam klasik. Ada buku teks rujukan, yang bisa diberi ringkasan, atau diberi tambahan penjelasan, dan kemudian diberi eksplorasi lebih jauh. Bacaan kitab juga bertingkat sesuai tingkatan belajar para santri. Tertib dalam disiplin ilmu.

Sama aja dengan belajar biologi di SMP dan belajar biologi di pascasarjana pasti beda kedalamannya meskipun sama-sama belajar biologi. Keilmuan klasik Islam juga demikian. Belajarnya gak bisa lompat, harus tertib. Semoga coretan sederhana ini bisa mendorong kita untuk terus rajin belajar.

Medium penyampaian ilmu boleh saja menggunakan tool modern seperti di medsos ini, namun belajar dengan tertib keilmuan harus kita jaga tradisi ini. Kalau tidak, pengetahuan kita hanya comot sana-sini, dan tdk mengenal kedalaman ilmu dengan baik. Medsos itu cuma tool saja, jangan jadi yang utama.

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Readmore → Menjaga Tradisi Belajar Keislaman dengan Tertib

Thursday, June 13, 2019

Waktu Terkabulnya Do'a di Hari Jum'at

Hari Jumat adalah hari spesial bagi umat Islam. Jumat adalah hari raya mingguan bagi mereka. Hari di mana Nabi Adam AS diciptakan dan dicabut nyawanya, terompet Malaikat Israfil ditiupkan, berakhirnya kehidupan manusia di dunia dan beberapa peristiwa besar lainnya yang terjadi di hari Jumat.

Hari Jumat adalah waktu yang tepat untuk memperbanyak shalat, zikir, shalawat, dan ibadah lainnya. Bahkan di hari itu, pengajian-pengajian para kiai dan ulama diliburkan sebagaimana yang telah mentradisi sejak dulu dengan tujuan untuk memfokuskan diri beribadah di hari tersebut.

Di antara hal yang sangat dianjurkan dilakukan di hari Jumat adalah memperbanyak doa baik di malam harinya ataupun di waktu siangnya. Sebagaimana dijelaskan banyak hadits Nabi, terdapat satu waktu di antara satu kali 24 jam di hari Jumat yang sangat manjur untuk dibuat berdoa.

Ulama mengisitilahkan waktu tersebut dengan “Sa’atul Ijabah” (waktu terkabulnya doa). Barangsiapa berdoa di waktu tersebut, maka segala permintaannya akan terkabul.

Dalam hadits riwayat Al-Bukhari disebutkan.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Artinya, “Dari Sahabat Abi Hurairah RA, sungguh Rasulullah SAW menyebut hari Jumat kemudian berkomentar perihal Jumat, ‘Pada hari itu terdapat waktu yang tidaklah seorang Muslim menemuinya dalam keadaan beribadah seraya ia meminta kepada Allah sesuatu hajat, kecuali Allah mengabulkan permintaannya.’ Rasulullah memberi isyarat dengan tangannya bahwa waktu tersebut sangat sebentar,” (HR Al-Bukhari).

Tidak ada keterangan hadits Nabi yang secara tegas menjelaskan penentuan waktu ijabah tersebut, bahkan beberapa di antaranya saling berlawanan. Karena itu, ulama berbeda pendapat mengenai penentuan waktunya.

Menurut mayoritas ulama madzhab Syafi’i, waktu ijabah yang paling diharapkan adalah waktu di antara duduknya khatib di atas mimbar sebelum ia berkhutbah dan salamnya Imam jamaah shalat Jumat.

Pendapat tersebut bertendensi kepada hadits riwayat Imam Muslim dan Imam Abi Dawud sebagai berikut.
عَنْ أَبِي مُوْسَى اَلْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ لِيْ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِيْ شَأْنِ سَاعَةِ الْإِجَابَةِ؟ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعُتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ هِيَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الْإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلَاةُ

Artinya, “Dari Abi Musa Al-Asy’ari, ia berkata, ‘Abdullah bin Umar berkata kepadaku, ‘Apakah kau pernah mendengar ayahmu bercerita dari Rasulullah Saw tentang waktu ijabah?’ Aku menjawab, ‘iya.’ Aku pernah mendengar ayahku mendengar dari Rasulullah bahwa beliau bersabda, ‘Waktu ijabah adalah waktu di antara duduknya imam sampai selesainya shalat Jumat,’” (HR Muslim dan Abi Dawud).

Mengenai rentang waktu sebagaimana diterangkan hadits tersebut, Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menjelaskan.
وَالْمُرَادُ أَنَّهَا لَا تَخْرُجُ عَنْ هَذَا الْوَقْتِ لَا أَنَّهَا مُسْتَغْرِقَةٌ لَهُ لِأَنَّهَا لَحْظَةٌ لَطِيْفَةٌ

Artinya, “Yang dimaksud adalah bahwa waktu ijabah tersebut tidak keluar dari rentang waktu ini, bukan keseluruhan rentang waktu tersebut, karena waktu ijabah sangat singkat sekali,” (Lihat Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Al-Minhajul Qawim, Hamisy Hasyiyah At-Tarmasi, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2011, juz 4, halaman 345).

Pertanyaannya kemudian, bukankah saat khutbah berlangsung dianjurkan untuk diam dari bicara? Bukankah sibuk berdoa justru bertentangan dengan anjuran mendengarkan khutbah secara seksama?

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini sebagaimana dikutip Syekh Mahfuzh At-Tarmasi menjawab sebagai berikut.
وَسُئِلَ الْبُلْقِيْنِيُّ كَيْفَ يُسْتَحَبُّ الدُّعَاءُ فِيْ حَالِ الْخُطْبَةِ وَهُوَ مَأْمُوْرٌ بِالْإِنْصَاتِ؟ فَأَجَابَ بِأَنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَرْطِ الدُّعَاءِ اّلتَّلَفُّظُ بَلِ اسْتِحْضَارُ ذَلِكَ بِقَلْبِهِ كَافٍ فِيْ ذَلِكَ

Artinya, “Imam Al-Bulqini ditanya. ‘Bagaimana mungkin jamaah Jumat disunahkan berdoa saat berlangsungnya khutbah sementara ia diperintahkan diam?’ Ia menjawab, ‘Doa tidak disyaratkan untuk diucapkan. Menghadirkan doa di dalam hati saat khutbah berlangsung sudah cukup,’” (Lihat Syekh Mahfuzh Termas, Hasyiyah At-Tarmasi ‘alal Minhajil Qawim, Jeddah, Darul Minhaj, cetakan pertama, 2011, juz 4, halaman 344).

Dari keterangan tersebut dapat dipahami bahwa cara berdoa saat khutbah berlangsung adalah dengan dibaca dalam hati, tidak perlu diucapkan dengan lisan.

Demikianlah penjelasan mengenai waktu yang paling ampuh untuk berdoa di hari Jumat. Perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini tidak bisa dihindarkan. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan waktu ijabah terjadi. Oleh karena itu, sebaiknya selama hari Jumat berlangsung kita dianjurkan untuk senantiasa memperbanyak doa dan ibadah serta melepas urusan-urusan duniawi, dengan harapan dapat menjumpai waktu ijabah yang sangat sebentar tersebut. Wallahu a'lam.

Sumber
Readmore → Waktu Terkabulnya Do'a di Hari Jum'at